Jumat, 21 Juli 2017

Malang atau Beruntung? Ku tak tahu..



Alkisah ada seorang anak laki-laki biasa yang hidup dipinggir kota..

Pada usianya yang ke-15, hampir putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu lagi menyekolahkannya, baiknya sang paman mau mengurusnya sehingga ia tinggal bersama pamannya tersebut dan sekolah di kampung halamannya sana.
Sekolah dari kota pindah kekampung karena kekurangan biaya, orang-orang disekitar mendengar kabar itu merasa kasihan dan berkata "Dik, malangnya nasibmu."
Tapi anak itu menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Ternyata 2 semester berturut ia mendapatkan juara dan piagam dari sekolahnya itu, sehingga ia bisa pindah ke sekolah yang terbilang cukup bonafit di ibu kota dan juga mendapatkan beasiswa.
Mendengar berita itu, orang-orang disekitar berkata "Dik, sungguh beruntung nasibmu."
Tapi anak itu menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Tidak sampai setahun sekolah disana dengan peraturan yang ketat, membuat ia merasa tidak nyaman dan malah berulah, sampai akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah itu.
Karena sudah tidak ada biaya melanjutkan sekolah lagi, anak itu memutuskan untuk mencari pekerjaan.
Pertama kali dalam hidupnya mengajukan lowongan pekerjaa adalah sebagai cleaning service, dan hasilnya ditolak mentah karena usianya belum cukup umur (-18).
Orang-orang yang mendengar kabar seperti itu merasa iba dan berkata "Dik, sungguh malang nasibmu."
Tapi anak itu menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Genap pada usia 18th, ia mengajukan lowongan pekerjaan lagi namun sebagai satpam outsourcing yang cukup ternama.
Mendengar kabar itu, orang-orang disekitar yang mengenalnya tahu ia tidak memiliki ijazah seolah atas namun bisa mendapatkan pekerjaan dengan taraf pendapatan yang sama dengan orang-orang yang memiliki ijazah sekolah atas pada umumnya, hingga mereka berkata "Beruntungnya nasibmu".
Tapi anak itu menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Setelah 1 tahun bekerja sebagai satpam, ia diajak oleh saudaranya untuk mengajukan lowongan pekerjaan lagi di salah satu toko minuman, walau gaji dari itu lebih kecil dibandingkan dengan gaji sebagai satpam akan tetapi memiliki peluang untuk menunjang karir, maka anak itu memutuskan untuk mengambil lowongan ditoko minuman itu dan berhenti sebagai satpam.
Orang-orang yang tidak tahu kenyataannya merasa heran dan sayang dengan keputusan yang diambil oleh anak itu, karena merasa itu adalah suatu keputusan yang beresiko dan rugi, mereka pun pada berkata "Dik, malangnya nasibmu."
Tapi anak itu menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Ternyata baru 2 bulan bekerja di toko minuman, mendapat nilai cara kerja yang sangat baik dimata bosnya sehingga jabatan naik 2 tingkat sekaligus diberi kepercayaan oleh bosnya untuk mengepalai toko yang baru dibuka. Padahal karyawan lain paling cepat bisa membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk bisa naik jabatan 1 tingkat saja dan bisa sampai 1 tahun lagi untuk naik tingkat berikutnya. Karirnya naik sangat cepat diantara seluruh karyawan lainnya.
Teman-teman kerjanya mengetahui kabar itu sangat takjub terheran sambil berkata "Teman, sungguh beruntungnya nasibmu".
Tapi dia hanya menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Tidak sampai sebulan bekerja di toko yang baru yang dikepalainya, ia mengalami kecelakaan motor yang mematahkan bahu kanannya. Akibatnya ia tidak bisa bergerak segesit dan senormal dahulu yang menyebabkan selama 2 tahun ia bekerja karirnya tidak pernah naik lagi sampai akhirnya ia berhenti bekerja.
Teman dan orang-orang sekitarnya prihatin mendengar berita tersebut dan berkata "Alangkah malangnya nasibmu".
Tapi dia hanya menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Selang 1 hari berhenti kerja (menganggur) ia melamar di salah satu perusahaan bursa berjangka yang cukup besar, referensi dari teman dari bagian kantor sewaktu ia bekerja di toko minuman tersebut.
Di interview langsung oleh sang Direktur dan langsung diterima sebagai karyawan masa percobaan selama 3 bulan, dan kemudian di angkat sebagai karyawan. Tepat 1 tahun kemudian diangkat lagi menjadi karyawan tetap dan ia mendapatkan bonus tiap bulan yang mana nilainya hampir dari setengah besar gajinya.
Orang mengetahui kabar itu, cukup terheran bagaimana bisa ia bekerja kantoran lalu bisa menjadi karyawab tetap sedangkan pengalamannya selama ini selalu bekerja di lapangan. Mereka semua berkata "Dik, sungguh beruntung nasibmu".
Tapi dia hanya menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Baru hampir 2 tahun ia bekerja sebagai karyawan tetap, perekonomian negara kacau balau, tidak sedikit perusahaan-perusahaan besar bangkrut dan angkat kaki dari negara tersebut. Pengurangan karyawan terjadi hampir di semua prusahaan. Tidak terkecuali diperusahaan tempat ia bekerja.
Ia memang tidak termasuk karyawan yang dirumahkan akan tetapi bonus tiap bulannya dihilangkan.
Teman-temannya yang mengetahui kabar tersebut turut prihatin dan mengatakan "Malangnya nasibmu, teman".
Tapi dia menjawab "Malang atau beruntung? ku tak tahu".

Seling beberapa bulan kemudian, ia mendengar kabar bahwa bosnya membuka perusahaan kecil yang masih sangat baru yang berkantor diluar negeri. Tak disangka, ia menjadi salah satu orang kepercayaan bos dengan beberapa orang karyawan lainnya untuk membangun dan merintis perusahaan baru tersebut dari nol. Dengan gaji yang lebih besar dari gaji+bonus sewaktu ia bekerja dikantor yang sebelumnya tambah lagi segala fasilitas hidup layak ditanggung oleh perusahaan.
Orang-orang yang mengetahui kabar tersebut terheran bagaimana semua itu bisa terjadi padanya, sambil berkata "Sungguh beruntung nasibnya".
Si anak laki-laki itu tetap saja berkata "Malang atau beruntung? aku tidak tahu".

=================================================

Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa untuk menghadapi segala sesuatu dengan non-judgement.
Kita sebagai manusia, tentu memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang di skenariokan Sang Maha Sutradara.
Kisah "malang atau beruntung" anak laki-laki tersebut akan sangat mungkin terjadi kepada kita semua.
Karena apa-apa yang kita sebut hari ini sebagai “kemalangan” barangkali adalah suatu jalan menuju “keberuntungan” lagi.

Yang harus kita ketahui betul adalah, hanya sang Maha Pencipta-lah yang pantas menentukan Kemalangan atau Keberuntungan hamba Ciptaan-Nya.
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya"
(QS: 91:9-10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Be The Lightning, Even If It's For A Second.

Featured Post

Eps 3 : Kebohongan Sains Modern

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Insta Galeri